Memeluk Kehilangan
“Tak ada yang tahu, seperti apa takdir akan membawamu. Mungkin saja ia lebih senang mempermainkanmu” - Mifth
“Aku tak bisa melihatmu seperti ini
terus, Ra” gumam sahabat karibku, yang hanyaku balas dengan senyuman. “bukankah,
engkau yang paling pandai untuk memberikanku semangat dan motivasi?, lalu
kenapa Kau sendiri tak sanggup untuk bangkit!”, timpalnya dengan nada suara
sedikit meninggi dan tegas, ku dengar nada-nada kasih sayang dan kekhawatiran
dari wajah lucu nan chubby itu.
Aku beranjak dari lamunanku yang khidmat memandangi rindanganya pohon dari balik jendela. Kuhampiri Tania yang sedari tadi duduk di atas tempat tidur dan rewel mencerahamiku. Kududuk tepat disebelahnya. Kugapai dan genggam jemari tangan itu, sedikit mengambil kekuatan darinya, lalu lekas kembali tersenyum, di balik getir-getir kepahitan yang telah sekian lama kutelan. Mungkin suatu saat akan mulai menjadi pisau pembunuh untukku.
***
“Ra, coba kau lihat langit” kata
Aldo malam itu, malam 1 hari tepat sebelum ia mengatakan hal yang
membahagiakan.
“Ada apa dengan
langit?” kataku sambil memandangi langit malam yang terlihat cerah,
“Bintang-bintangnya indah bukan?” aku mengangguk, pendar
cahaya bintang malam itu sungguh berbeda dari hari-hari sebelumnya.
“Tapi, seterang apapun mereka disana, mereka tak mampu
mengalahkan keindahan gadis yang ada di sampingku ini”. Pandangan matanya
berpapasan denganku untuk sesaat, senyum manis dari lelaki asing nan ramah itu
membuat degup jantungku semakin memburu. Lalu dengan cepat ku alihkan padanganku
dari mata indahnya. Aku tersipu malu.
***
Aldo, lelaki yang kukenal 2 bulan
lalu. Kami bertemu di kegiatan kemanusiaan. Saat itu kami sama-sama menjadi
relawan, Tania juga. Aku dan Tania fokus menjadi tim pengajar dan trauma healling untuk anak-anak. Aldo
menjadi relawan kesehatan, ia seorang perawat. Aku mencintai anak-anak,
bagiku mereka adalah candu yang selalu memberikan kebahagiaan. Itulah mengapa
aku selalu terkenal dengan gadis periang, tak ada sedikitpun kusut di wajahku,
meski setumpuk masalah di letakkan di pundakku. Namun, Tania kadang tak menyukai
sikapku yang demikian. Baginya aku sok tegar, begitulah sahabatku dengan sejuta
rasa sayangnya.
“Rara yah?” suara lelaki yang membuat
obrolanku dengan Tania terhenti, keningku mengernyit, ingatanku memutar. "Apa Aku pernah mengenal laki-laki ini yah?" tanyaku dalam hati, sembari kulambungkan senyum demi menghargai
sapaannya. Begitupun Tania, juga kebingungan.
“Aku Aldo, anak relawan di sini juga, tapi Aku di tim kesehatan”, dengan cepat lelaki itu menjawab kebingungan Aku dan
Tania. Secara sepakat kami tak percaya, selama mengabdi belum pernah kami melihatnya, bahkan hanya untuk sepintas.
“Kok Aku ndak pernah melihatmu sebelumnya yah, masa
kamu anak relawan juga seh?” buru Tania dengan rasa penasaran dan sedikit
tidak percaya yang tampak jelas dari raut wajahnya.
”Bagaimana kalian mau memperhatikan orang lain, jika
seluruh perhatian kalian full untuk
anak-anak. Kuperhatikan kalian selalu asik dan menyenangkan bersama mereka”, gumam
Aldo sembari menunjukkan kartu tanda pengenal anggota relawannya. Aku dan
Tania hanya tertawa, membenarkan apa yang dikatakan Aldo, sembari membolak-balik kartu tanda pengenal itu, untuk sekedar meyakinkan diri.
Selama jadi relawan, Aku dan Tania selalu mengahabiskan
waktu bersama anak-anak. Seperti biasa, setelah selesai bertugas, kami selalu
menyempatkan mengobrol, bercerita apa saja. Kadang bernostalgia ketika waktu
menjadi bocah ingusan, bercerita tentang beratnya manjadi manusia
dewasa, dan juga kadang iseng mengkhayal tentang kekasih masa depan. Topik yang
terakhir ini selalu menarik bagi Tania, karena saat itu dia akan sangat puas dengan
membullyku. Perempuan aneh yang
tidak pernah membuka hati. Begitulah urusan cintaku bagi Tania, sahabat rasa
saudaraku itu. Cerita-cerita itu menguap di bawa pendaran cahaya bintang, aroma caffein turut menemani,
menambah lengkapnya suasana. Selepas perkenalan mengagetkan malam itu, Aldo
menjadi teman baru kami. Setiap malam selepas bertugas Aldo ikut berbagi cerita
di tujuh malam terakhir penugasan kami sebagai relawan.
***
“Ra, aku ingin bicara serius”, wajah lelaki
yang baru ku kenal 7 hari yang lalu, tak pernah ku lihat ia seserius dan
sepercaya itu. Gurat dan lekukkan wajahnya begitu menyakinkan. Malam itu, tepat
malam terakhir kami mengabdi menjadi relawan, malam itu juga ia menyatakan
keseriusannya kepadaku. Entah, bagaimana seorang Rara bisa sebegitu yakin
kepada lelaki, terlebih lagi lelaki yang baru di kenalnya seminggu yang lalu.
Kusambut letupan cinta dari lelaki asing dengan penuh keyakinan itu. Tanpa
ragu sedikitpun.
“Sungguh Ra”, kata gadis chubbyku tak
percaya, setelah ku menceritkan apa yang terjadi
“OMG, gadis
keras kepala sepertimu, yang anti dengan cinta. Sungguh aku tak percaya, INI
MUSTAHIL”, Aku hanya bisa tersenyum melihat ketidakpercayaan gadisku itu,
sahabat yang selalu setia menemani. Tania sudah seperti kakaku, dia sangat
mengetahui segala tentangku.
“Wah, waah, ini
seperti sebuah keajaiban. Raraku, entah engkau sedang bermimpi apa?. Well.. Aku
setuju kau dengannya, Aldo lelaki yang baik. Aku melihat ia berbeda” akhir
kalimatnya membuatku semakin percaya kepada Aldo. Lelaki yang baru ku kenal 7
hari yang lalu. Kehadiran Aldo membuat hariku yang menyenangkan menjadi semakin
menyengkan.
Mekaran bunga di taman hatiku semakin banyak.
Kutemukan pelangi dimana-mana. Sungguh aku bahagia memilikinya. 1 bulan aku
berjalan dengannya, kukenalkan Aldo kepada keluargaku. Keluargaku salah satu
keluarga yang di pandang di Masyarakat, karena ayahku salah satu tokoh
masyarakat di kampung. Ada sedikit ragu saat aku mengenalkan Aldo kepada Ayah.
Namun semua berjalan sempurna. Kesimpulanku, Ayah menyukai Aldo. Ia sempurna
sebagai lelakiku.
***
Senyumku tak lepas, setelah semalam lelaki asing itu
memujiku. Pendaran cahaya bintang yang tentu saja lebih terang dan indah
daripadaku. Suara deringan HP menghentikan lamunanku. Terbaca nama di layar
ponselku “Aldo”. Puncuk di cinta ulampun tiba. Aku sedang memikirkannya.
“Hallo, Assalamualaikum Ra” sapa lelaki yang telah
menyakinkan hatiku dari kejauhan
“Waalaikumsalam kak”. Kakak adalah panggilan akrabku kepadanya.
Hari ini, adalah hari yang membahagiakan
bagiku, sungguh. Tak lepasku panjatkan rasa syukurku kepada Allah, ku rendahkan
kepalaku kepada bumi. Aku tak salah menjatuhkan hatiku kepadanya.
“Besok Aku akan kerumah bersama keluargaku. Melamarmu.
Aku akan memintamu kepada Ayah”. Kata-kata itu terngiang, lelakiku. Ia begitu
berani. Segera ku kabarkan, kabar bahagia kepada Ayah dan keluargaku. Tentu
saja,kabar itu adalah yang selalu Ayah nantikan. Ayah tak ingin aku berlama-lama
berpacaran.
Tak sabarku menunggu datangnya hari esok, sampai mataku tak bisa terpejam.
Mengkhayalkan hal indah yang akan segera terjadi. Kesempurnaan separuh agamaku.
Sungguh Allah begitu baik kepadaku. Segala kebahagiaan yang selama ini,
lebih-lebih aku di berikannya lelaki yang begitu baik.
***
“Tak kusangka, anak gadisku yang tomboy ini akan
segera menikah”, goda Ibu saat membantu aku bersiap. Ibu sedikit merias
wajahku, katanya agar aku terlihat lebih manis dan feminim. Selama ini make up dan sejenisnya, hampir tak
tersentuh di wajahku, kecuali bedak bayi. Pagi itu, rumahku sedikit sibuk dari
biasaya, keluarga dan sanak saudara mulai berkumpul di ruang tamu.
Pukul 09.00 semua persiapan sudah rampung. Aldo dan
keluarganya akan tiba 1 jam lagi. Rona bahagia di wajahku tidak bisa kusembunyikan. Tania yang selalu berada di sampingku tak berhenti menggodaku. Wajah
sahabatku juga begitu merona. Jelas kebahagiaanku menjadi bahagianya juga.
“Aku berangkat ke rumahmu, tunggu Aku”, pesan masuk
dari Aldo. Membuatku semakin tersipu.
“Siap Pak bos, hati-hati”, balasku untuk lelaki yang
kelak akan menemaniku.
***
“Sudah kau coba hubungi lagi Ra”, kata ayah tenang.
Sekarang pukul 11.30, Aldo terlambat 1 jam lebih. Resah mulai megahampirku.
Cahaya bahagia mulai memudar perlahan dari wajahku. Lelaki yang kutunggu tak
kunjung datang. Apa ia sedang membohongiku, membohongi keluargaku. Pikiran liar
berdatangan dalam benakku. Kulihat keluargaku mulai resah, Tania
menenangkanku. Menasehatiku agar tetap berpikir positif.
Selepas berjam-jam dalam keresahan dan ketidakpastian.
Lelaki parubaya datang mengetuk pintu rumah. Kupikir salah satu rombongan
keluarga Aldo yang tiba terlebih dahulu. Namun, sayangnya bukan. Lekas ku urungkan
senyumku saat itu. Ternyata ia hanya lelaki pengantar kabar. Kabar yang tidak
pernah inginku dengar, seumur hidupku.
Ayah dan beberapa pamanku menghampiri lelaki parubaya
itu. Menemaninya duduk di pelataran rumah demi mendengar kabar apa yang hendak
di sampaikan tamunya di hari bahagiaku. Selepas obrolan singkat itu, Ayah kembali ke dalam rumah. Wajah ayah berubah menjadi sendu. Kali ini, pikiran liar itu
semakin tidak terkendalikan. Saran Tania sudah tidakku indahkan lagi.
“Aldo dan keluarganya kecelakaan. Aldo meninggal di
tempat kejadian”, dengan tegas dan tanpa ragu Ayah mengatakannya. Kabar buruk.
Seketika saja aku seperti tak merasakan tubuhku lagi, dengan cepat Tania dan
beberapa orang di sampingku menangkap tubuhku. Sempurna, cahaya bahagia itu
hilang. Lekas berganti luka. Dalam ketidaksadaranku, riuh tangis pecah, semua
gelisah dan khawatir, beberapa sanak sodaraku segera ke rumah sakit. Aku,
dengan luka batinku, sepertinya aku tak ingin bangkit lagi. Biarkan saja terus
terpejam seperti ini.
Sejak saat itu, Tania dan keluargaku kehilangan
Raranya yang periang. Hari-hariku menjadi sendu, lelakiku telah membawa pergi
sebagian kebahagianku, sebagian hidupku, dan juga sebagian mimpiku. Aku
kehilangan keceriaanku. Anak-anak tak lagi menjadi candu untuk kebahagiaanku.
Aku ingin lelakiku. Aldoku. Hanya ia yang mampu mengembalikan mekaran di taman
hatiku.
***
Dua tahun telah berlalu, aku menjadi gadis yang begitu
membosankan. Saat awal-awal kepergiannya, tiada hari tanpa air mata. Luka dan
derita itu sungguh menyiksa. Sekejap kebahagiaanku Allah gantikan dengan luka
yang bahkan tak sanggup aku menanggungnya. Berbagai dukungan dan motivasi
berdatangan. Seperti angin lalu, tak mampu mengubahku. Ayah, Ibu, dan Tanialah
yang sampai detik ini masih ingin menemani gadis keras kepala yang sedang
merana ini.
“Ra, relakan Ra, kehidupan masih terus berjalan. Ada
dan tiadannya”, katanya membangkitkanku. Kini ku rebahkan kepalaku pada
pundak Tania.
“Sungguh aku
tak suka melihatmu seperti ini. Belajarlah menerima. Peluklah kehilangan itu
Ra, agar kelak ia akan menjadi sahabatmu. Kau akan tersenyum dan menerimanya,
tanpa sedikitpun kau rasakan lagi perih di hatimu. Berdamailah dengan hatimu Ra”.
Kuhadapkan wajah kepada gadis Chubbyku itu, lalu ku tersenyum padanya.
“Bagaimana aku akan memeluk setumpukan duri, berdamai
dengan kobaran api?, jika ia hanya akan menambah begitu banyak luka dalam
hatiku, lalu membakar habis segala jiwaku. Biarkan saja aku seperti ini,
menikmati setumpukkan lukaku dalam lautan kenangan. Mungkin ia akan sembuh
dengan sendirinya. Entah kapan. Atau mungkin, jika Allah berbaik hati. Aku akan
segera dipertemukan dengannya. lelakiku”, gumamku dalam hati, demi tidak
menambahkan kesedihan untuk Sahabatku.
“Aku rindu kamu Ra. Rara yang periang, Raraku yang
suka iseng. Aku rindu”, kata-kata Tania mengakhiri gumamku. Kata-kata yang
hampir selalu di ucapkannya setiap bertandang ke kamarku. Menemani aku yang
begitu nestapa.
Ku tersenyum dalam dekapan Tania, atas pikiran konyolku tadi. Namun, sangat ingin ku amini menjadi nyata. Segera kiranya luka berguguran menjadi kebahagiaan abadi. Mataku kembali khitmad memandang rindangnya pohon, yang dedaunya begitu girang terlambai angin, lalu aku bersiap untuk kembali menyelami lautan kenangan.
“Sungguh, tak ada yang baik-baik saja selepas kehilangan”.
Komentar
Posting Komentar